Salah satu dari diskusi-diskusi yang paling krusial dalam kepemimpinan adalah regenerasi. Beberapa pekerjaan tidak di maksudkan untuk selesai dalam satu generasi. Nyatanya, banyak pekerjaan-pekerjaan penting yang tidak dapat diselesaikan dalam satu era saja. Orang-orang menyerahkan pekerjaan-pekerjaan penting dari satu generasi ke generasi berikutnya, mengharapkan perkembangan dan penyelesaian. Urusan Surga dan bumi adalah pekerjaan yang paling penting di jagad raya ini, dan itu tidak akan selesai sampai Yesus datang kedua kalinya. Menjelang akhir hayatnya, Paulus meneruskan urusan pelayanan tentang surga dan bumi kepada Timotius muda dan memerintahkannya: “Apa yang telah engkau dengar daripadaku didepan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Timotius 2:2).
Paulus dengan sengaja mengkaitkan gagasan regenerasi ini dengan pendidikan. Ini mengingatkan akan pengutusan Yesus: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan dibumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:18-20). Oleh karena itu, salah satu dari focus pendidikan Kristen adalah regenerasi. Dan karena manusia secara natural bertumbuh, dan pertumbuhan kita bergantung pada jenis pendidikan yang kita jalani, maka jika kita harus mempersiapkan generasi berikutnya untuk menerima tongkat estafet dari leluhur kita, persiapan tersebut harus bertujuan mengajar semua generasi berikutnya bahwa mereka harus tahu dan menguasai supaya dapat dengan benar memegang tongkat yang akan mereka terima.
Paulus meminta Timotius untuk meneruskan pelayanan ini kepada orang-orang yang dapat dipercayai. Paulus ingin memastikan bahwa rahasia surga dan bumi yang telah diungkapkan kepada Timotius akan jatuh ke tangan-tangan yang tepat. Sangat penting bagi Timotius untuk menemukan orang-orang yang dapat dipercaya dengan rahasia tersebut. Mengapa? Karena rahasia tersebut adalah untuk usaha pelayanan pekerjaan Kerajaan Surga. Tetapi barangsiapa yang kepadanya dipercayakan rahasia kerajaan Surga adalah seperti yang disebut Petrus sebagai “a royal priesthood” (1 Petrus 2:9). Dengan kata lain, rahasia ini harus deteruskan kepada siapa saja yang juga bekerja didalam Kerajaan sebagai warga kerajaan. Garis pekerjaan ini tidak dapat diteruskan kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Sama seperti layaknya seorang raja tidak bisa meneruskan tampuk kepemimpinannya kepada seorang pangeran yang ceroboh, Timotius juga tidak boleh meneruskan rahasia dan pelayanan tersebut kepada mereka yang tidak dapat dipercaya. Tidak hanya rahasia dan pelayanan tersebut harus diteruskan secara eksklusif kepada siapa saja yang dapat dipercaya, tetapi kepada siapa saja yang juga berkualitas untuk mengajar yang lain. Oleh karena itu, perintah Paulus kepada Timotius mengandung dua syarat untuk pembawa tongkat yang selanjutnya: dapat dipercaya dan dapat mengajar. Bagaimana caranya Timotius dapat menemukan orang-orang seperti itu di dunia? Jawabannya sederhana. Seperti halnya pertumbuhan kita ditentukan oleh pendidikan yang kita terima, tidak semua pendidikan dapat melakukannya, tetapi hanya pendidikan Kristen yang memiliki semua persyaratan untuk menghasilkan orang-orang yang dapat dipercaya dan dapat mengajar.
Dalam hal ini, Pendidikan Kristen harus mengajar murid-murid Yesus untuk mengajar. Mengajar bagaimana mengajar adalah jenis subyek yang biasanya diabaikan oleh pendidik. Dalam bisnis pendidikan, banyak pendidik yang cenderung berasumsi bahwa mengajar itu wajar. Banyak dari kita percaya bahwa para guru dilahirkan bukan dibentuk. Fakta bahwa banyak professor di universitas yang cuek dengan cara mengajar tidak ada hubungannya dengan apakah mereka dilahirkan dengan bakat mengajar atau tidak, tetapi sebaliknya ada hubungannya dengan apakah mereka pernah diajar bagaimana mengajar. Kita sering beranggapan bahwa mahasiswa-mahasiswa Fakultas Keguruan tahu bagaimana mengajar dan oleh karenanya kita tidak mengajarkan dengan cukup bagaimana mengajar. Karena pengutusa Yesus adalah untuk menjadikan semua bangsa murid Nya dan mengajar mereka segala sesuatu yang Dia perintahkan, berkaitan dengan instruksi Paulus kepada Timotius, adalah sangat penting untuk Pendidikan Kristen untuk mengajar para Kristiani bagaimana caranya mengajar.
Timotius mengikut Paulus dengan sepenuh hati. Paulus mengajar Timotius untuk dapat dipercaya dan dapat mengajar. Paulus mengajarkan Timotius rahasia surga dan bumi. Paulus mengajar Timotius natur dari pelayanan yang akan diteruskannya. Semua ‘apa’, ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ dari pelayanan surge dan bumi dipelajari Timotius melalui Paulus. Lalu ketika Timotius siap, Paulus meneruskan pelayanan kepadanya untuk dilanjutkan. Jenis pelayanan ini hanya berakhir ketika Yesus datang kembali. Suatu pendidikan yang menyatakan dirinya sebagai Kristen tetapi tidak berjuang untuk meneruskan rahasia dan pelayanan tentang surga dan bumi kepada generasi selanjutnya bukanlah pendidikan Kristen. Suatu pendidikan yang menyatakan dirinya sebagai Kristen tetapi tidak berusaha untuk menghasilkan kepercayaan dan kemampuan untuk mengajar orang lain juga bukanlah pendidikan Kristen. Oleh karena itu, adalah urusan pendidikan Kristen untuk secara terus menerus meneruskan pelayanan surga dan bumi kepada generasi berikutnya yang dapat dipercaya dan dapat mengajar sampai kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus yang kedua kalinya.
Translated by:
Lea S. Surjantoro
Showing posts with label Bisnis Pendidikan Kristen. Show all posts
Showing posts with label Bisnis Pendidikan Kristen. Show all posts
Monday, April 27, 2009
Bisnis Pendidikan Kristen KeDua: Rahasia Surga dan Bumi
Ketika kita berbicara mengenai pendidikan, kita akan selalu berhubungan dengan rahasia – rahasia. Sebagai orang tua terhadap anak – anaknya, sebagai guru – guru untuk murid – murid mereka, kita menyingkapkan misteri, - yang kalau tidak disingkapkan akan tetap tersembunyi dari para pembelajar. Bisnis pendidikan ini sangat serius. Siapapun yang menjabat sebagai guru – guru atau siapapun yang berfungsi sebagai guru – guru berada didalam urusan membagikan rahasia kehidupan kepada generasi berikutnya. Jika tidak ada para guru, rahasia tersebut bisa saja hilang, dan orang – orang akan harus menemukan kembali kemudinya. Pendidikan itu terlalu serius untuk diabaikan. Membagikan rahasia kehidupan kepada generasi berikutnya merupakan persoalan yang besar. Dalam pendidikan Kristen, kita tidak hanya menyalurkan rahasia kehidupan ke generasi berikutnya, tetapi juga rahasia surga. Itulah yang membuat bisnis pendidikan Kristen menjadi sangat berharga.
Rahasia surga dan kehidupan itu dinyatakan oleh Allah. Tuhan membukakan rahasia kehidupan melalui – yang disebut – pewahyuan umum, dan rahasia surga melalui pewahyuan khususNya. Yang menarik adalah rahasia surga dan kehidupan hanya di nyatakan kepada manusia dan bukan dari ciptaan – ciptaan lainnya. Kehormatan ini ada hubungannya dengan status kita sebagai mahkota penciptaan, karena kita diciptakan serupa dengan gambar dan rupa Allah. Sejak semula manusia diciptakan untuk memiliki kapasitas dalam memahami rahasia surga dan kehidupan yang disingkapkan. Melalui sarana – sarana pendidikan, manusia menyalurkan pengetahuan akan rahasia tersebut kepada keturunan – keturunannya, dan itu sudah sejak lama seperti itu. Karena keharusan untuk mengetahui rahasia itulah penelitian akan rahasia tersebut dirasa sangat penting dalam area pendidikan. Sekali rahasia tersebut diketahui, hal tersebut akan dituruntemurunkan kepada generasi berikutya dengan cara pendidikan.
Dalam kejatuhan kita dalam dosa, kita tidak selalu melihat kebenaran sebagaimana mestinya. Pengetahuan kita ditutupi oleh dosa. Jadi, kehausan akan kebenaran sejati akan tetap ada. Manusia mencoba untuk menyingkapkan rahasia demi rahasia sejak permulaan zaman. Tetapi, semua kembali kepada Allah yang akan memutuskan apakah Dia akan membukakannya kepada manusia. Jadi, selain dari Allah, tidak seorangpun yang akan benar – benar tahu. Sebagai konsekuensinya, apa yang kita pikir sebagai rahasia surga dan kehidupan yang terbuka bisa saja bukanlah kebenaran. Namun demikian, kita menurunkannya kepada anak-anak kita dan menekankan pengetahuan tersebut pada mereka yang mungkin saja tidak benar. Manusia berhati-hati pada kesalahan dan lalu berjuang menjaga supaya tidak ada kebocoran pengetahuan yang salah yang diturunkan pada generasi berikutnya. Ini membuat bisnis pendidikan menjadi lebih berat, karena sekarang ini pendidikan tidak hanya membagikan rahasia tetapi juga mencegah banjirnya pengetahuan yang salah kepada generasi berikutnya.
Menentukan yang mana yang salah dan yang benar jelas – jelas tidak semudah yang terdengar. Manusia memerlukan standar untuk mengukur rahasia yang baru saja tersingkapkan apakah itu termasuk dalam bangunan pengetahuan yang benar atau tidak. Seperti yang sudah dijabarkan di diskusi sebelumnya tentang bisnis pendidikan, kita telah mengetahui bahwa standar kebenaran adalah Kristus sendiri, karena Dia-lah sang Kebenaran. Oleh karena itu, sangat penting bagi manusia untuk mempertimbangkan secara serius mengaitkan Kristus kapanpun kita berhubungan dengan suatu upaya pencarian kebenaran yang sejati. Tidak banyak yang akan dengan siap setuju dengan apa yang saya ajukan disini, akan tetapi saya tidak dapat dan tidak akan menyangkal Tuhan saya hanya karena Dia tidak dianggap menarik oleh banyak pakar.
Penyampaian rahasia surga dan kehidupan diperintahkan oleh Tuhan didalam Alkitab (Ulangan 6: 4-9; Matius 28:18-20). Pemilik rahasia tersebut adalah Tuhan sendiri. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik, saya tergetar dihadapanNya setiap kali saya menghadirkan rahasia surga dan kehidupan kepada siapa saja yang Tuhan percayakan kepada saya sebagai murid – murid saya, entah itu dalam kapasitas saya sebagai seorang guru atau dalam fungsi pengajaran saya. Membagikan rahasia ini kepada generasi berikutnya adalah suatu pengalaman yang terhormat disamping itu juga tidak layak untuk saya. Saya memahami bahwa rahasia tersebut adalah milik Allah dan itulah sebabnya saya tidak dapat menghadirkan selayaknya itu milik saya. Yang kedua, saya tidak dapat mengklaim apa yang tidak benar sebagai hal yang benar, karena nantinya saya akan menghadirkan kebenarannya dengan salah kaprah.
Untuk semua yang menganggap diri mereka para pendidik, saya mendorong Anda untuk menguji diri Anda sendiri dengan seksama sebelum mempresentasikan dan membagikan rahasia surga dan kehidupan kepada murid – murid Anda. Para guru memiliki sejenis kuasa dan otoritas dan juga atribut – atribut dalam diri mereka yang merupakan pemberian dari surga semata. Ketika para guru berbicara, mereka berbicara dengan suatu karisma yang secara natural menarik perhatian para murid. Dalam dunia yang berdosa ini, kuasa seperti itu dapat di salah gunakan dan dapat menjadi salah arah. Bisnis pendidikan Kristen ini sangat serius sehingga Allah mengatakannya di Yakobus: “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru, sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat” (Yakobus 3:1), atau kita juga mungkin mau melihat dibagian yang lain dimana Dia mengatakan “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya padaKu, lebih baik bagiNya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Bukankah seharusnya kita gemetar ketika kita terlibat dalam usaha pendidikan? Bukankah seharusnya kita gemetar saat kita membagikan rahasia surga dan kehidupan kepada generasi selanjutnya?
Translated by:
Lea S Surjantoro
Rahasia surga dan kehidupan itu dinyatakan oleh Allah. Tuhan membukakan rahasia kehidupan melalui – yang disebut – pewahyuan umum, dan rahasia surga melalui pewahyuan khususNya. Yang menarik adalah rahasia surga dan kehidupan hanya di nyatakan kepada manusia dan bukan dari ciptaan – ciptaan lainnya. Kehormatan ini ada hubungannya dengan status kita sebagai mahkota penciptaan, karena kita diciptakan serupa dengan gambar dan rupa Allah. Sejak semula manusia diciptakan untuk memiliki kapasitas dalam memahami rahasia surga dan kehidupan yang disingkapkan. Melalui sarana – sarana pendidikan, manusia menyalurkan pengetahuan akan rahasia tersebut kepada keturunan – keturunannya, dan itu sudah sejak lama seperti itu. Karena keharusan untuk mengetahui rahasia itulah penelitian akan rahasia tersebut dirasa sangat penting dalam area pendidikan. Sekali rahasia tersebut diketahui, hal tersebut akan dituruntemurunkan kepada generasi berikutya dengan cara pendidikan.
Dalam kejatuhan kita dalam dosa, kita tidak selalu melihat kebenaran sebagaimana mestinya. Pengetahuan kita ditutupi oleh dosa. Jadi, kehausan akan kebenaran sejati akan tetap ada. Manusia mencoba untuk menyingkapkan rahasia demi rahasia sejak permulaan zaman. Tetapi, semua kembali kepada Allah yang akan memutuskan apakah Dia akan membukakannya kepada manusia. Jadi, selain dari Allah, tidak seorangpun yang akan benar – benar tahu. Sebagai konsekuensinya, apa yang kita pikir sebagai rahasia surga dan kehidupan yang terbuka bisa saja bukanlah kebenaran. Namun demikian, kita menurunkannya kepada anak-anak kita dan menekankan pengetahuan tersebut pada mereka yang mungkin saja tidak benar. Manusia berhati-hati pada kesalahan dan lalu berjuang menjaga supaya tidak ada kebocoran pengetahuan yang salah yang diturunkan pada generasi berikutnya. Ini membuat bisnis pendidikan menjadi lebih berat, karena sekarang ini pendidikan tidak hanya membagikan rahasia tetapi juga mencegah banjirnya pengetahuan yang salah kepada generasi berikutnya.
Menentukan yang mana yang salah dan yang benar jelas – jelas tidak semudah yang terdengar. Manusia memerlukan standar untuk mengukur rahasia yang baru saja tersingkapkan apakah itu termasuk dalam bangunan pengetahuan yang benar atau tidak. Seperti yang sudah dijabarkan di diskusi sebelumnya tentang bisnis pendidikan, kita telah mengetahui bahwa standar kebenaran adalah Kristus sendiri, karena Dia-lah sang Kebenaran. Oleh karena itu, sangat penting bagi manusia untuk mempertimbangkan secara serius mengaitkan Kristus kapanpun kita berhubungan dengan suatu upaya pencarian kebenaran yang sejati. Tidak banyak yang akan dengan siap setuju dengan apa yang saya ajukan disini, akan tetapi saya tidak dapat dan tidak akan menyangkal Tuhan saya hanya karena Dia tidak dianggap menarik oleh banyak pakar.
Penyampaian rahasia surga dan kehidupan diperintahkan oleh Tuhan didalam Alkitab (Ulangan 6: 4-9; Matius 28:18-20). Pemilik rahasia tersebut adalah Tuhan sendiri. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik, saya tergetar dihadapanNya setiap kali saya menghadirkan rahasia surga dan kehidupan kepada siapa saja yang Tuhan percayakan kepada saya sebagai murid – murid saya, entah itu dalam kapasitas saya sebagai seorang guru atau dalam fungsi pengajaran saya. Membagikan rahasia ini kepada generasi berikutnya adalah suatu pengalaman yang terhormat disamping itu juga tidak layak untuk saya. Saya memahami bahwa rahasia tersebut adalah milik Allah dan itulah sebabnya saya tidak dapat menghadirkan selayaknya itu milik saya. Yang kedua, saya tidak dapat mengklaim apa yang tidak benar sebagai hal yang benar, karena nantinya saya akan menghadirkan kebenarannya dengan salah kaprah.
Untuk semua yang menganggap diri mereka para pendidik, saya mendorong Anda untuk menguji diri Anda sendiri dengan seksama sebelum mempresentasikan dan membagikan rahasia surga dan kehidupan kepada murid – murid Anda. Para guru memiliki sejenis kuasa dan otoritas dan juga atribut – atribut dalam diri mereka yang merupakan pemberian dari surga semata. Ketika para guru berbicara, mereka berbicara dengan suatu karisma yang secara natural menarik perhatian para murid. Dalam dunia yang berdosa ini, kuasa seperti itu dapat di salah gunakan dan dapat menjadi salah arah. Bisnis pendidikan Kristen ini sangat serius sehingga Allah mengatakannya di Yakobus: “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru, sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat” (Yakobus 3:1), atau kita juga mungkin mau melihat dibagian yang lain dimana Dia mengatakan “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya padaKu, lebih baik bagiNya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Bukankah seharusnya kita gemetar ketika kita terlibat dalam usaha pendidikan? Bukankah seharusnya kita gemetar saat kita membagikan rahasia surga dan kehidupan kepada generasi selanjutnya?
Translated by:
Lea S Surjantoro
Bisnis Pendidikan Kristen
Pendidikan Kristen bertanggung jawab untuk mengubah jiwa manusia. Sebagaimana arti pendidikan dipahami sebagai “memimpin keluar,” maka pendidikan Kristen adalah memimpin jiwa manusia keluar dari ketidakbenaran menuju kepada kebenaran. Tetapi mengapa kebenaran? Mengapa selama bertahun-tahun orang-orang bergelut untuk meraih kebenaran? Pontius Pilatus bertanya kepada Yesus “Apakah kebenaran itu?” (Yohanes 18:38). Tetapi Yesus berkata kepada murid-muridnya bahwa “kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32). Banyak orang tidak memahami apa itu kebenaran. Kisah tentang penemuan kebenaran tidak pernah berakhir. Usaha tersebut meguras seluruh waktu, energi, hasrat, dan bahkan menantang inti keberadaan kita. Entah bagaimana jiwa kita gelisah ketika kita berkelana di dunia ketidakbenaran. Seperti yang dipahami banyak orang, teristmewa mereka yang bekerja keras di sekolah, universitas, pusat penelitian, institut, danseterusnya, bahwa pendidikan mengurus pembongkaran kebenaran. Kita hanya dapat menemukan kelegaan melalui penemuan kebenaran, meskipun kebenaran yang kita temukan hanyalah penggalan kecil dari keseluruhan. Namun pertanyaan yang diajukan Pontius Pilatus tetap: “Apakah kebenaran itu?”
Merupakan hal yang ironis bahwa seorang pejabat tinggi dalam suatu bangsa terbesar di dunia pada zaman Yesus, tidak mengetahui kebenaran. Dunia Greco-Roman mengikuti jejak Sokrates dalam perjalanannya mencari kebenaran, namun setelah 400 tahun, orang-orang berkedudukan tinggi yang oleh Plato disebut raja-raja filsuf, tidak mengetahui kebenaran. Kitab Yohanes ditulis dengan mempesona menggunakan ironi di setiap sudut. Bukan hanya “raja-raja filsuf” yang tidak mengetahui kebenaran, tetapi juga mereka yang dianggap sebagai pemimpin-pemimpin rohani kaum Yahudi, yang diidentifikasi sebagai orang-orang yang dekat dengan kebenaran karena di tangan mereka dipercayakan firman yang diwahyukan Allah. Apakah kebenaran itu? Jika kita membaca di dalam Yohanes 8:31-32, maka kita akan menemukan sesuatu yang menarik: 31Maka kata-Nya kepada orang–orang Yahudi yang percaya kepadaNya, “Jikalau kamu tetap di dalam Firman-Ku kamu benar-benar adalah murid-Ku. 32 dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan mememerdekakan kamu.” Yohanes menyebutkan bahwa Yesus mengatakan kata-kata ini kepada mereka yang percaya. Ini berarti bahwa Ia tidak mengatakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Ironis bahwa mereka yang mengira mereka mengenal kebenaran, sebenarnya tidak mengenal kebenaran, dan alasannya sederhana, karena mereka tidak percaya dan tidak tetap di dalam pengajarannya dan dengan demikian mereka bukan murid-murid-Nya. Dalam kata lain, hanya murid-muridnya yang mengenal kebenaran.
Orang-orang akan memrotes dan bertanya: ”Jadi hanya orang Kristen yang tahu kebenaran?” Tentu tidak, jika kebenaran yang kita maksudkan mencakup semua penggalan-penggalan kebenaran yang dapat kita pegang. Dalam hal itu, kita harus lanjut dan berkata bahwa orang ateis pun tahu sebagian kebenaran. Jadi apa artinya bahwa mereka yang tidak percaya dan berpegang kepada firmanNya tidak mengetahui kebenaran? Kita kembali melihat kitab Yohanes ketika Yesus berdoa bagi murid-muridnya. “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran” (Yohanes 17:17). Sangatlah menarik membaca kitab Yohanes, terutama jika kita memperhatikan permainan katanya. Pada pasal pertama, Yohanes mengidentifikasikan Yesus Kristus sebagai Firman . Yesus sendiri menegaskan bahwa Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup” (Yohanwa 14:6). Jadi, jika kita mencoba menyimpulkan arti kebenaran sebagai mana dipahami dalam kitab Yohanes, maka kita harus menemukan bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, pengajaran Yesus adalah kebenaran, dan dengan demikian pengajaran Yesus adalah Firman Tuhan, dan lebih dari itu Yesus adalah Firman dan Ia adalah kebenaran. Dan “kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32).
Orang-orang ateis mungkin mengetahui sebagian kebenaran, tetapi kebenaran itu tidak dapat memerdekakan mereka. Hanya kebenaran di dalam Kristus Yesus lah yang dapat memerdekakan orang, karena kebenaran di dalam Kristus adalah Firman itu sendiri, dan Firman yang menjadi manusia adalah Penebus dunia. Orang ateis, orang yang tidak percaya, kemungkinan mengetahui sebagian kebenaran, namun mereka tidak mengetahui kebenaran yang khusus ini, satu-satunya kebenaran yang membawa kepada hidup yang kekal, satu-satunya kebenaran yang mematahkan belenggu dosa dan memerdekakan manusia dari perbudakan. Syarat untuk mengetahui kebenaran ini sebenarnya sangat sederhana, sehingga kita hanya perlu melakukan satu pekerjaan: ”Pekerjaan Allah adalah ini: percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yohanes 6:29). Untuk mengenal kebenaran yang dapat memerdekakan kita, kita hanya perlu percaya dan tinggal dalam pengajaran Yesus.
Inilah fungsi pendidikan Kristen. Pendidik-pendidik Kristen dipanggil untuk memberitakan kebenaran, mengajarkan kebenaran kepada dunia, dan mereka yang percaya dan tinggal dalam pengajaran tersebut akan dimerdekakan. Semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Ini merupakan tugas para pendidik Kristen untuk mengintegrasi penggalan-penggalan kebenaran menjadi keseluruhan yang terintegrasi dalam Kristus Yesus. Orang-orang dari seluruh dunia tidak dapat berhenti mengejar kebenaran. Kita dilahirkan untuk lapar dan haus akan kebenaran. Tak ada filosofi, tak ada agama, dan tak ada suatu apa pun di dalam dunia ini yang dapat memungkiri kebutuhan kita akan kebenaran. Hal ini disebabkan oleh natur kita yang Imago Dei sehingga kita tidak dapat lari dari pencarian kita akan kebenaran. Bagaimanapun juga, kita diciptakan menurut gambar Allah, yaitu Yesus Kristus. Dan ketahuilah bahwa Yesus Kristus adalah KEBENARAN.
Alihbahasa:
STL
Merupakan hal yang ironis bahwa seorang pejabat tinggi dalam suatu bangsa terbesar di dunia pada zaman Yesus, tidak mengetahui kebenaran. Dunia Greco-Roman mengikuti jejak Sokrates dalam perjalanannya mencari kebenaran, namun setelah 400 tahun, orang-orang berkedudukan tinggi yang oleh Plato disebut raja-raja filsuf, tidak mengetahui kebenaran. Kitab Yohanes ditulis dengan mempesona menggunakan ironi di setiap sudut. Bukan hanya “raja-raja filsuf” yang tidak mengetahui kebenaran, tetapi juga mereka yang dianggap sebagai pemimpin-pemimpin rohani kaum Yahudi, yang diidentifikasi sebagai orang-orang yang dekat dengan kebenaran karena di tangan mereka dipercayakan firman yang diwahyukan Allah. Apakah kebenaran itu? Jika kita membaca di dalam Yohanes 8:31-32, maka kita akan menemukan sesuatu yang menarik: 31Maka kata-Nya kepada orang–orang Yahudi yang percaya kepadaNya, “Jikalau kamu tetap di dalam Firman-Ku kamu benar-benar adalah murid-Ku. 32 dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan mememerdekakan kamu.” Yohanes menyebutkan bahwa Yesus mengatakan kata-kata ini kepada mereka yang percaya. Ini berarti bahwa Ia tidak mengatakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Ironis bahwa mereka yang mengira mereka mengenal kebenaran, sebenarnya tidak mengenal kebenaran, dan alasannya sederhana, karena mereka tidak percaya dan tidak tetap di dalam pengajarannya dan dengan demikian mereka bukan murid-murid-Nya. Dalam kata lain, hanya murid-muridnya yang mengenal kebenaran.
Orang-orang akan memrotes dan bertanya: ”Jadi hanya orang Kristen yang tahu kebenaran?” Tentu tidak, jika kebenaran yang kita maksudkan mencakup semua penggalan-penggalan kebenaran yang dapat kita pegang. Dalam hal itu, kita harus lanjut dan berkata bahwa orang ateis pun tahu sebagian kebenaran. Jadi apa artinya bahwa mereka yang tidak percaya dan berpegang kepada firmanNya tidak mengetahui kebenaran? Kita kembali melihat kitab Yohanes ketika Yesus berdoa bagi murid-muridnya. “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran” (Yohanes 17:17). Sangatlah menarik membaca kitab Yohanes, terutama jika kita memperhatikan permainan katanya. Pada pasal pertama, Yohanes mengidentifikasikan Yesus Kristus sebagai Firman . Yesus sendiri menegaskan bahwa Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup” (Yohanwa 14:6). Jadi, jika kita mencoba menyimpulkan arti kebenaran sebagai mana dipahami dalam kitab Yohanes, maka kita harus menemukan bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, pengajaran Yesus adalah kebenaran, dan dengan demikian pengajaran Yesus adalah Firman Tuhan, dan lebih dari itu Yesus adalah Firman dan Ia adalah kebenaran. Dan “kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32).
Orang-orang ateis mungkin mengetahui sebagian kebenaran, tetapi kebenaran itu tidak dapat memerdekakan mereka. Hanya kebenaran di dalam Kristus Yesus lah yang dapat memerdekakan orang, karena kebenaran di dalam Kristus adalah Firman itu sendiri, dan Firman yang menjadi manusia adalah Penebus dunia. Orang ateis, orang yang tidak percaya, kemungkinan mengetahui sebagian kebenaran, namun mereka tidak mengetahui kebenaran yang khusus ini, satu-satunya kebenaran yang membawa kepada hidup yang kekal, satu-satunya kebenaran yang mematahkan belenggu dosa dan memerdekakan manusia dari perbudakan. Syarat untuk mengetahui kebenaran ini sebenarnya sangat sederhana, sehingga kita hanya perlu melakukan satu pekerjaan: ”Pekerjaan Allah adalah ini: percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yohanes 6:29). Untuk mengenal kebenaran yang dapat memerdekakan kita, kita hanya perlu percaya dan tinggal dalam pengajaran Yesus.
Inilah fungsi pendidikan Kristen. Pendidik-pendidik Kristen dipanggil untuk memberitakan kebenaran, mengajarkan kebenaran kepada dunia, dan mereka yang percaya dan tinggal dalam pengajaran tersebut akan dimerdekakan. Semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Ini merupakan tugas para pendidik Kristen untuk mengintegrasi penggalan-penggalan kebenaran menjadi keseluruhan yang terintegrasi dalam Kristus Yesus. Orang-orang dari seluruh dunia tidak dapat berhenti mengejar kebenaran. Kita dilahirkan untuk lapar dan haus akan kebenaran. Tak ada filosofi, tak ada agama, dan tak ada suatu apa pun di dalam dunia ini yang dapat memungkiri kebutuhan kita akan kebenaran. Hal ini disebabkan oleh natur kita yang Imago Dei sehingga kita tidak dapat lari dari pencarian kita akan kebenaran. Bagaimanapun juga, kita diciptakan menurut gambar Allah, yaitu Yesus Kristus. Dan ketahuilah bahwa Yesus Kristus adalah KEBENARAN.
Alihbahasa:
STL
Subscribe to:
Posts (Atom)