Monday, May 4, 2015
The Hermeneutics of Deception
Wednesday, April 29, 2015
The Hermeneutics of Unbelief
14 But as for
you, continue in what you have learned and have firmly believed, knowing from
whom you learned it 15 and
how from childhood you have been acquainted with the sacred writings, which are
able to make you wise for salvation through faith in Christ Jesus. 16 All Scripture is
breathed out by God and profitable for teaching, for reproof, for correction,
and for training in righteousness, 17 that the man of God may
be complete, equipped for every good work.Thursday, April 2, 2015
The New “Gnosticism” of the 20th and 21st Centuries
Thursday, August 14, 2014
The Impact of Consumerism and Market Oriented Culture to Human Spirituality
27 And Jesus went on with his disciples to the villages of Caesarea Philippi. And on the way he asked his disciples, “Who do people say that I am?” 28 And they told him, “John the Baptist; and others say, Elijah; and others, one of the prophets.” 29 And he asked them, “But who do you say that I am?” Peter answered him, “You are the Christ.” 30 And he strictly charged them to tell no one about him.
Friday, May 2, 2014
The Voice of the Pulpit : The Business of Christian Education LXXIX
Friday, June 13, 2008
To Believe or To Reason
Apakah agamawan mendasarkan worldview nya kepada iman saja tanpa rasio? Apakah ilmuwan mendasarkan worldview nya kepada rasio saja tanpa iman? Dua pertanyaan itu jawabnya TIDAK.
Rene Descartes membuat tonggak di mana rasio dan iman independen antara satu sama lain. Dengan keunikan argumentasinya yang dimulai dari doubt, dia berupaya membuktikan keberadaan Allah. Dengan demikian Descartes melandaskan pembuktian keberadaan Allah atas argumentasi logika saja. Tetapi bila diteliti lebih lanjut, upaya Descartes mengundang banyak pertanyaan, sebab di dalamnya banyak asumsi2 yang bisa diragukan. Misalnya ketika dia pada akhirnya menyimpulkan "I Think Therefore I AM," maka bisa ditanyakan "How do you know that you think? Why your thinking isn't an illusion? How do you know that when you think you exist?" Maka mau tidak mau Descartes seharusnya sudah memiliki presuposisi tertentu yang mendasari pemikirannya. Alvin Plantinga dan Nicholas Wolterstorff berargumentasi bahwa presuposisi dasar itu adalah Faith.
Secara khusus Plantinga menekankan bahwa faith itu basic. Dalam hal ini, Plantinga berbicara soal method dan bukan content dari knowledge. Di dalam argumentasi epistemolgi antara foundationalism, coherentism, atau warrantism, kesemuanya berbicara mengenai content. Faith itu basic, dan penjelasan akan hal ini sudah dimulai sejak Agustinus, yang diteruskan ke Anselm, Calvin, dst. Paul Hiebert di dalam konsep cirtical realism epistemology, memberikan penjelasan bahwa pembentukan grid kategori seseorang dimulai dengan iman dan bukan reason. Dia memberi contoh seorang anak yang baru pertama kali diajak oleh ibunya melihat bebek, maka baru pertama kali bertemu bebek, bertanya kepada ibunya: "Itu apa?" Maka ibunya menjawab: "Bebek." Dan si anak menerima dengan iman jawaban ibunya, dan di register
Lanjut, bila orang mempertanyakan historisitas Yesus atau Musa atau Abraham misalnya, maka dengan pertanyaan yang sama historisitas orang yang bertanya juga bisa dipertanyakan. [Heran, jarang orang mempertanyakan historisitas Napoleon atau Hitler misalnya. Atau, apakah WW2 benar2 terjadi?]. Misal, sederhana saja. Jika si A tidak percaya Yesus pernah ada di dunia ini, maka dengan sistem yang sama kakek buyut si A bisa dipertanyakan historisitasnya. Atau, untuk ilustrasi lebih jauh, bisa ditanyakan apakah si A memang anak dari K & L, orang2 yang sampai sekarang ini mengasuhnya dan terus berperan sebagai orang tua A?
Tuhan tidak pernah memaksa orang untuk percaya. Hal ini terserah kepada manusia, mau percaya atau tidak - hanya saja semua tindakan atau non-tindakan memiliki konsekuensinya masing2 (hal yang mana ada pada God's wisdom). Jika orang kristen dituduh memaksakan imannya kepada orang lain, dhi non kristen, maka sebetulnya jika dilihat argumentasi balik dari pihak non-kristen, kelihatannya orang kristen yang sekarang dipaksa untuk percaya iman orang non kristen. How, then, do they differ from each other? They both operate in faith, although the faith is different. Jadi adalah salah kaprah jika berpikir bahwa orang Kristen hanya beroperasi dengan iman dan karenanya tidak rasional, sedangkan yang menolak iman kristen beroperasi secara rasional dan karenanya tidak bias oleh iman. Memang sulit menganalisa diri sendiri ketika sedang sibuk menganalisa orang lain.
Orang2 Kristen di segala tempat dan di sepanjang segala abad, termasuk Abraham, Musa, Daud, sampai sekarang, termasuk saya, bersaksi bahwa Yesus Kristus menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dari kematian kekal.


